Kamis, 29 Januari 2015

LIMA - HARI HARI PERJUANGAN

Tiga hari menjelang pertandingan. Pelatih menjadwalkan dua kali latihan lagi lebih fokus dan sungguh-sungguh. Tidak ada waktu lagi untuk berleha-leha. Bahkan setiap harinya, setiap anak belajar bermain bola sendiri di rumah masing-masing. Teman atau lawan bermainnya macam-macam. Kalau Adil jelas bapaknya , pak Lurah, yang walau sibuk namun di sore hari menyempatkan berlatih berebut bola dengan kaki bersama anaknya. Hasan si anak juragan krupuk tentu saja meminta, mungkin juga memaksa, pekerja-pekerja di pabrik bapaknya untuk menjadi lawan mainnya. Sedang si Said harus merengek-rengek meminta abah untuk menjadi lawannya main bola. Tapi apa kata abah? “Eh, Said. Ente kan tau badan abah gemuk begini mana bisa lari sana lari sini, kaya kancil begitu”. Tapi ketika melihat Said berkaca-kaca nyaris menangis. Abah yang lucu itu dengan cerdik segera menghiburnya, “Gini aja deh, tuh kan ada tembok. Tendang aja bolanya ke tembok, ntar kan dia mantul tuh, kemana larinya ente kejar, tendang lagi. Malah lebih bagus Id! Bola kan larinya kemana-mana, ente bisa lebih lincah dari latihan lawan orang.” Jadilah Said berlatih melawan tembok, tak kenal waktu. Sampai uminya berteriak-teriak: “ Saiiid, ya Allaah, maghriiib..!!” Apa kabar manajer kita, Sahrul? Sepertinya dari semua anak-anak yang ada di kampung Margasari tidak ada yang sesibuk Sahrul. Ia harus menyiapkan seragam untuk tim bola yang akan bertanding. Kali ini tidak main-main lagi . Kang Emen tukang sablon langganan tidak lagi dipertimbangkan untuk berpartisipasi. Ini kan laga besar. Sahrul berencana untuk menyablon kaos seragam di tempat tukang sablon spesialis pemilu. Lebih berpengalaman, mungkin juga harganya lebih mahal. Tapi dijamin tidak akan luntur. Apa boleh buat. Pak Karim, guru olah raga yang ditunjuk sebagai bendahara menyatakan bahwa hasil pegumpulan sumbangan dari masing-masing orangtua pemain yang berjumlah enambelas termasuk cadangan, dari para pemilik lapak di pasar Cikidang serta dari pak Lurah dan pak Camat, telah mencukupi untuk keperluan pengadaan seragam dan sepatu bola. Masing-masing pemain mendapatkan dua stel seragam dengan satu pasang sepatu bolanya. Dari hasil urun rembug yang lumayan alot, akhirnya desain kaos yang dibuat Sahrul terpilih untuk dipakai sebagai seragam kesebelasan Margasari. Memang banyak usulan yang diajukan dari para pemuka kampung yang suka bergotong royong itu. Ada yang menginginkan gambar sekolah SDN Margasari disablon di kaos atau ada pula usul agar gambar pemandangan desa Margasari yang permai itu dilukiskan pada seragam bola anak-anak mereka. Tentu saja Sahrul berusaha mempertahankan pendapatnya, karena ia memang salah satu pendiri kesebelasan kebanggaan warga itu. Jadi pastinya berhak untuk ikut memutuskan. Selain memang ia yang paling siap dengan desain yang sudah digambarnya jauh-jauh hari, maka semua orang dengan ikhlas menerima keputusan musyawarah. Walupun masih ada saja yang mengeluh, biasalah itu. O iya, sebenarnya bagaimana desain yang diajukan Sahrul, sehingga menimbulkan pro dan kontra di musyawarah desa waktu itu? Rupanya sang manajer kesebelasan Margasari ini menggambar di kaos oblong berwarna putih. Pada bagian saku kiri atas terdapat logo badak bercula satu berwarna merah, di sebelah kiri nama pemain juga berwarna merah. Bagian belakang nomor punggung diatasnya tertulis Margasari dengan huruf besar, lagi lagi berwarna merah. Jadi hanya ada dua warna, merah dan putih. Alasannya, mengapa merah putih sudah jelas itu warna bendera kita. Jadi menunjukkan rasa nasionalisme. Semua setuju. Tapi kenapa badak? Merah lagi. Dengan tangkas Sahrul berucap,”Badak bercula satu adalah binatang yang hanya ada di Indonesia. Jenis ini sudah sangat langka, jadi harus kita lestarikan. Suaka margasatwa dimana badak ini dilindungi termasuk dalam kecamatan kita. Jadi harus kita tunjukkan bahwa binatang langka yang terkenal di dunia itu ada di wilayah kita, kecamatan kita!” Suara Sahrul terdengar lantang dan bersemangat. Sorak sorai riuh rendah teriakan dukungan untuk Sahrul terutama dari anak-anak sebayanya. Dukungan teman-teman ini lebih penting. Teriakan mereka terdengar lebih keras menenggelamkan suara orang-orang dewasa yang hadir. Pak Lurah hanya tersenyum-senyum. Pak Husin tidak bisa menyembunyikan wajah bangganya menyaksikan kecerdasaan muridnya yang penuh percaya diri berbicara di hadapan banyak orang. Namun, itu belum selesai. Ada lagi pertanyaan, kenapa badaknya merah. Badak itu abu-abu atau coklat atau hitam, entahlah, yang bertanyapun tidak yakin juga tetapi pokoknya tidak mungkin merah. Sahrul menjawab singkat, “ Merah itu berani. Merah itu semangat “. Tepuk tangan bergemuruh di pendopo kelurahan. Sahrul…Sahrul…Sahrul. Namanya di teriakkan sebagai tanda dukungan. Diantara hiruk pikuk itu Sahrul mengenali suara kang Ndang, dia turut mendukungnya. Itulah mengapa pada akhirnya disain Sahrul yang dipilih. Cerita punya cerita, jawaban merah itu berani, merah itu semangat sebenarnya bisa bisanya si Sahrul saja. Kenapa demikian? Sebab alasan sesungguhnya kenapa ada badak berwarna merah, awalnya adalah karena Sahrul dan teman-temannya sangat tergila-gila pada kesebelasan Inggris Manchester United yang dijuluki setan merah. Mereka ingin kesebelasan mereka juga punya julukan yang keren. Tapi bukankah tidak mungkin menggunakan julukan yang sama dengan M.U? Apalagi membawa-bawa setan segala, bisa runyam kejadiannya. Yang jelas Gun Gun anak pak ustad Mansur pasti menolaknya. Buktinya lagi, suatu hari ketika mereka sedang ngobrol tentang sepak terjang M.U. di lapak ibu Tilah, tanpa sengaja Sahrul berteriak, “Hebat..hebat, setan merah memang hebat!”. Dengan membelalak ibunya langsung berteriak, “Huuss..huuss, Sahruuul! apa itu setan-setan!”. Nah, mau dijelaskan? Tapi bagaimana menjelaskannya, pasti susah. Karena ibu Tilah dan juga sebagin besar orang lainnya di kampung mereka tidak mengikuti berita-berita semacam itu. Maka, ya sudahlah. Jadi sebenarnya, warna merah dipakai karena ingin seperti julukan si “em yu” itu. Waktu tinggal dua hari lagi. Ada sekitar empat puluh kecamatan di bawah Kabupaten. Untuk pertandingan ini dibagi menjadi empat bagian utara, selatan, barat dan timur. Masing bagian terdiri dari delapan kecamatan, karena tidak semua ikut berpartisipasi. Margasari termasuk grup barat. Jadi kesebelasan mereka harus bertanding dua kali, artinya menang dua kali untuk bisa masuk ke perempat final. Finalnya akan didakan di ibu kota kabupaten. Tentu semua pejuang-pejuang cilik itu berangan-angan bisa bertanding di hadapan bapak Bupati dan jajarannya. Apalagi yang harus dilakukan, selain berdoa tentu saja, ya hanya berjuang mati-matian. Seperti kata kang Ndang, “tidak ada yang tidak mungkin, semua punya kesempatan sama”. Sekarang semua sudah siap. Latihan dianggap cukup. Semangat tinggi. Perlengkapan tidak ada yang kurang. Artinya tinggal menunggu hari laga itu dijadwalkan. Lalu bagaimana transportasinya. Kecamatan Cihujan tempat pertandingan pertama mereka kan tidak dekat? Disinilah tugas pak Lurah untuk mengkoordinasikannya. Pak Lurah meminta bantuan dari orangtua yang memiliki mobil terutama minibus, maksudnya supaya bisa membawa sekaligus banyak orang. Pak Sukarya ayah Hasan menyanggupinya. Ia memang memiliki beberapa kendaraan untuk keperluan pengiriman krupuk dari pabriknya. Tapi sesuai pesan pak Lurah, tidak boleh menggunakan kendaraan bak terbuka untuk pengangkutan orang karena berbahya. Maka dengan bangga dan ikhlas – sesuai janjinya pada Hasan–ia menyiapkan minibus yang baru dibelinya untuk pengangkutan kesebelasan kebanggaan penduduk kemanapun mereka akan bertanding. Alhamdulillah, pak Lurah sangat bersyukur. Dengan ditambah kendaran jip lamanya dan mobil abah Jamaludin, cukuplah sudah pengangkutan untuk seluruh tim dan perwakilannya. Karena penduduk banyak yang ingin ikut menyaksikan maka mereka akan berangkat naik sepeda motor pribadi. Jadi supoter kesebelasan Margasari cukup banyak untuk menyemangati anak, adik, abang, saudara, tetangga mereka bertanding nanti. Sayangnya, pelatih kita kang Ndang agak kurang sehat mendekati waktu-waktu pertandingan ini. Bahri, kiper kesebelasan yang tenang dan dewasa, tanpa diberi tahu bisa membacanya dari raut wajah kang Nang. Walaupun sang pelatih berusaha kelihatan ceria dan bersemangat di hadapan anak latihnya, namun beberapa kali Bahri memergoki kang Ndang mengerenyit seperti menahan sakit. Tapi Bahri memendamnya sendiri. Tidak mengatakan pada sesiapapun. Ia takut teman-temannya kehilangan semangat. Memang, tanpa setahu anak-anak, beberapa kali dalam bulan ini kang Ndang berobat ke rumah sakit di kabupaten. Hanya pak Zaenal orangtuanya dan pak Lurah yang mengetahuinya. Mereka sengaja menyembunyikannya sesuai permintaan kang Ndang, karena ia tidak ingin mengecewakan para pemain kesebelasan hebat seperti Margasari yang dilatihnya. Sehari sebelum berangkat bertanding, kang Ndang memanggil anak-anak berkumpul di lapangan seperti biasa. Hari itu lengkap, ada kang Surya. Kang Surya adalah teman kang Ndang yang suka rela membantu melatih fisik. Seperti kang Ndang, kang Surya mau bersusah payah demi anak-anak karena kagum akan semangat dan kemauan mereka. Setelah pemanasan sebentar. Pelatih meminta mereka istirahat. Mereka duduk bekeliling. Jadi masing-masing bisa melihat satu sama lain. Kang Ndang memandang satu per satu anak latihnya, wajahnya sumringah tersenyum-senyum. Anak-anak yang penuh semangat itupun jadi turut tersenyum bersamanya. Suasana cair. Pelatih mengacungkan kepalan tangannya keatas dan berteriak, “semangat!!” Terdengar balasan, “semangaaat!!” “ Oke, gimana anak-anak ? Sudah siap untuk pertandingan besok sore?” “ Siaap, kang” jawab anak-anak. “ Ya..ya. Akang sudah tahu betul. Kalian sudah siap semua. Kita istirahat saja tidak perlu latihan. Kita simpan stamina untuk besok sore. Setelah dari sini jangan banyak kegiatan lagi, jangan main main kejar-kejaran sama kerbau di sungai ya. Hemat tenaga kalian. Pulang ke rumah masing-masing, mengerti!” “ Mengerti, kang!” balas pasukan kecil itu. “ Anak-anak, ingat pesan akang ini,” suara pelatih terdengar lagi. Kali ini serius. Entah mengapa Bahri merasa jantungnya beregup kencang. Berdebar-debar. Hatinya merasa tidak enak. Dan tanpa diketahui seorangpun tangan kapten Adil meremas rerumputan dibawah kakinya. “ Bola itu bundar. Apapun bisa terjadi di lapangan. Sering kalian lihat kesebelasan jagoan kalah dari kesebelasan yang tidak diunggulkan. Atau kesebelasan yang sudah tertinggal jauh kerena gawangnya di jebol lawan terus, bisa membalik keadaan akhirnya menjadi juara pertandingan.” Kang Ndang berhenti. Wajahnya berputar memandang anak-anak yang terpekur mendengarkan. Kemudian ia melanjutkan, “ Tapi yang jelas, yang lebih siaplah yang akan meraih juara. Siap secara mental dan siap dengan teknik dan strategi. Kita harus berusaha keras supaya menang. Kalaupun kalah, kalah dengan terhormat Karena sudah berjuang. Satu lagi, fokus. Konsentrasi pada pergerakan dalam permainan. Jangan malaweung , ya Usep!” (malaweung bahasa Sunda: terpecah perhatiannya) Usep teripu-sipu. Anak-anak lainnya tertawa. Mereka ingat kang Ndang suka menegur Usep yang kurang konsentrasi. Ketika ada penjual es lewat atau ada layangan putus maka perhatiannya tertuju kesana, lupa pada permainan sehingga bola yang dioperkan padanya terlepas. Setelah diingatkan terus oleh pelatih, sekarang Usep menjadi bisa menjaga konsentrasinya. “ Kalian harus tetap fokus apapun yang terjadi. Kalaupun akang berhalangan, tidak dapat hadir mendampingi kalian, jangan menjadi alasan kehilangan semangat. Pasti ada kang Surya yang akan menggantikan. Ingatlah, dimanapun kalian bertanding selalu ada akang bersama semangat kalian”. Bahri dan anak-anak lainnya tahu bahwa kang Ndang juga melatih kesebelasan lain di kabupaten. Tapi entah mengapa Bahri merasa sangat sedih.Tanpa disadarinya ternyata kang Ndang memperhatikan dirinya yang terus menunduk melindungi wajahnya. Ia hampir menangis. Sebelum air matanya sempat jatuh, kang Ndang menegurnya, “Hei Bahri, kenapa, masak kiper nangis. Nanti pemain lainnya ikut-ikutan!” Bahri terkejut. Teman-temannya langsung mengeroyoknya untuk melihat air matanya. Bahri berguling-guling sambil menutup mukanya dengan kedua tangannya. Mereka tergelak-gelak. Adil juga ikut mengganggu Bahri. Ia bersyukur tidak ada yang memperhatikannya. Padahal mukanya sudah merah padam, terasa panas, menahan perasaannya. Priiiitt..sang pelatih membunyikan peluitnya. Anak-anak langsung bubar. “Sudah, sudah. Ayo kita pulang. Sebelumnya kita berdoa dulu. Semoga kita berhasil besok”. Mereka berdiri membentuk lingkaran, tangan mereka saling memeluk bahu teman di kanan dan kirinya. Setelah selesai berdoa, satu per satu anak-anak itu mencium tangan kang Ndang dan kang Surya kemudian berpamitan pulang. Kang Ndang memperhatikan anak-anak itu pergi sampai hilang dari pandangannya. Matanya berkaca-kaca. Surya menoleh kemudian ia memeluk bahu sahabatnya sambil mendorongnya perlahan, “ayo Ndang, kita pulang.” BERSAMBUNG …..