Selasa, 09 Desember 2014

BADAK MERAH - Bagian Tiga: Kapten Kita

Pak Lurah Sudirga sudah dua kali dipilih untuk menjabat sebagai Lurah di kelurahan Margasari, kecamatan Margahayu. Ayah dan kakeknya dulunya juga pengetua kampung seperti dirinya. Tetapi di zaman modern sekarang pak Dirga mendapat kepercayaan warga melalui pemilihan yang jujur dan terbuka. Setelah terpilih, ia juga dapat membuktikan kinerjanya. Dalam periode pertama jabatannya, ia berhasil meningkatkan kesejahteraan rakyatnya dengan mengembangkan sistem pertanian tumpangsari, sehingga membawa kelurahan Margasari sebagai kelurahan teladan dan ditetapkan menjadi percontohan wajib bagi kelurahan lain untuk meningkatkan hasil taninya. Dalam kurun masa jabatan keduanya, ia menitik beratkan pada kemajuan olahraga daerahnya, ia ingin akan ada atlet-atlet nasional yang dilahirkan oleh kelurahan Margasari yang dipimpinnya. Adil adalah anak kedua dari tiga bersaudara keluarga Sudirga. Kakak dan adiknya perempuan. Sejak belum bersekolah, Adil sering dibawa oleh ayahnya nonton pertandingan sepak bola, bahkan sampai ke Senayan di Jakarta. Ayahnya adalah pecandu bola, tim favoritnya Persib Bandung. Tidak heran apabila pada akhirnya Adil tergila-gila pada sepak bola juga. Selain tangkas bermain dan mengerti teknis permainannya, Adil juga sangat berbakat menjadi pemimpin seperti ayahnya. Ia adalah motor bagi teman-temannya ketika berada di lapangan. Bisa dikatakan cikal bakal kesebelasan Margasari adalah Adil pembentuknya. Kenapa demikian? Setahun yang lalu di ulang tahunnya, pak Dirga menghadiahi Adil bola lengkap dengan sepatu dan seragam tim kesayangannya. “ Kamu senang Dil “ tanya ayahnya. “ Ya pak, senang sekali “ jawab Adil girang. “ Semoga kelak kamu bisa jadi pemain bola nasional, ya “ kata ayahnya lagi sambil menepuk-nepuk pipinya. “ Ya pak, Adil mau “ harap Adil. Seragam bola itu menyemangati Adil untuk membentuk kesebelasan. Ia mulai berpikir untuk mengajak teman-teman sepermainannya yang juga senang bola bergabung dalam kesebelasan. “ Ri, bagaimana pendapatmu kalau kita bentuk kesebelasan “ tanya Adil pada Bahri ketika mereka beristirahat sehabis bemain bola. “ Ide bagus, Dil. Aku setuju itu “ balas Bahri. “ Pemainnya kita pilih saja dari anak-anak yang sering main disini kalau sore “ kata Adil lagi. “ Tapi kalau ada kesebelasan kita harus rajin cari lawan, Dil. Supaya maju – ujar Bahri. “ Benar. Eh itu Sahrul, Ruul “ teriak Adil. “ Heii “ sapa Sahrul mendekat. “ Dari mana kau, bajumu penuh lumpur, main bola sama kerbau? “ ledek Adil. Ketiga anak itu tertawa-tawa. “ Aku dari dusun sebelah tempat saudara sepupuku, main bola disawah becek… he he, seru juga “ kata Sahrul. Dusun sebelah yang dimaksud Sahrul adalah dusun Turi yang masih dibawah kelurahan Margasari, dimana ibu Sahrul berasal. Kelurahan Margasari membawahi beberapa dusun. Jaraknya tidak terlalu jauh tetapi kalau berjalan kaki membutuhkan waktu sekitar dua jam, sedangkan dengan kendaran bermotor bisa ditempuh dalam lima belas menit. “ Naik apa kamu tadi Rul? “ tanya Bahri. “ Berangkatnya naik ojek pamanku, pulang aku ikut mobil sayur pak Abduh “ jawab Sahrul ringan. “ Bagaimana mainnya anak-anak disana Rul, jago-jago ya? “ tanya Adil. “ Lumayan, mereka tangkas, mereka biasa bermain ditempat becek. Jadi ketika dilapangan kering, lincah “ jelas Sahrul. “ Benar juga. Kita bisa meniru cara mereka berlatih “ kata Bahri. “ Begini Rul, tadi akau bicara pada Bahri tentang ide untuk membentuk kesebelasan “ ujar Adil ketika melihat Sahrul kelihatan agak bingung dengan tanggapan Bahri. “ Kesebelasan? Sekolah si Iwan di Madrasah juga punya kebelasan “ jawab Sahrul antusias. “ Jadi bagaimana menurutmu Rul? “ tanya Adil dan Bahri. “ Menurut aku itu ide yang bagus. Tapi pemainnya sebaiknya anak satu sekolah kita saja “ jawanb Sahrul. “ Kenapa Rul, aku tadi berpikir kita kumpulkan saja anak-anak yang biasa main sama kita. Dari sekolah atau dusun mana saja boleh “ tanggap Adil. “ Kegiatan sekolah mereka seringkali tidak sama dengan kita, kadang-kadang ada yang jadual masuk sekolah siang. Nanti sulit untuk latihan bersama. Apalagi dari dusun lain, Dil “ jawab Sahrul cerdas. “ Kau begini bagaimana, waktu jam istirahat anak-anak kan sering main bola di halaman sekolah. Ada yang kelas tiga, empat ya semua deh ada. Nah, kita lihat permainan mereka, terus kita pilih deh. Kalau mereka mau kita bikin kesebelasan “ timpal Bahri panjang lebar. “ Setuju..setuju “ jawab Adil. “ Kita bisa coba besok ketika istirahat “ kata Sahrul. “ Ya betul. Sesegera mungkin kita bisa punya kesebelasan sendiri “ jawan Adil dengan bersemangat. Begitulah kesebelasan Margasari terbentuk. Nama Margasari sebenarnya tidak mewakili kelurahan mereka, tetapi nama sekolah mereka SDN Margasari. Setelah kesebelasan itu terbentuk, Adil ditunjuk sebagai kapten. Adil disegani oleh kawan-kawannya, bukan hanya karena ia anak Lurah, tetapi karena ia punya wibawa. Selain itu ia yang paling piawai bermain bola, ia juga mengerti strategi permainan dibanding yang lain kerena sering diajari oleh ayahnya, kemudian ia mengajari tim-nya. Posisinya di kesebelasan Margasari adalah penyerang. Dalam setahun setelah terbentuk, kesebelasan yang dikapteni Adil telah bertanding dengan berbagai kesebelasan sekolah atau dusun-dusun di kelurahan itu. Terakhir pada perayan hari kemerdekaan yang lalu kesebelasannya menang sebagai juara tingkat kelurahan memperebutkan trofi Lurah Margasari. Sejak itu pula kesebelasannya menjadi populer. Setelah ashar sesuai janji, anggota tim sudah berkumpul dilapangan bola. Mereka belum mulai berlatih karena menunggu Sahrul yang terlambat dan Bahri yang membantu ayahnya memperbaiki kandang kambing mereka yang rusak. “ Waduh, kalau mereka terlambat terlalu lama kita tidak bisa latihan hari ini. Keburu maghrib “ keluh Adil kecewa. “ Tuuh, mereka datang “ seru Anwar sambil menunjuk Bahri dan Sahrul yang berlarian kearah mereka. “ Maaf .... aduuh ... “Bahri dan Sahrul terengah-engah menjatuhkan badannya kerumput. “ Ya sudah, istirahatlah dulu “ kata Adil sambil duduk didekat kedua anak yang sedang berbaring di rerumputan. “ Dari mana kau Rul? “ tanya Said. “ Aku cape sekali, kesana kemari “ jawab Sahrul sambil bangun. “ Kau sudah ketempat pak Karim? – tanya Adil kemudian. “ Ya aku sudah bertemu dengan pak Karim, untuk keperluan pemain cadangan kita “ jawab Sahrul. “ Bagaimana menurut beliau Rul? “ tanya Hasan ingin tahu. “ Dia yang akan menangani masalah itu. Kita diminta konsentrasi latihan saja. Pak Husin sudah memberi perintah langsung kepadanya “papar Sahrul. “ Baguslah kalau begitu “ sela Adil lega. “ Ada lagi yang ingin aku bicarakan denga kalian semua, terutama engkau Dil “ kata Sahrul lagi. Semua anak terdiam. Mereka memperhatikan wajah Sahrul. Mereka sudah terbiasa denga sikap Sahrul yang seperti itu apabila ada hal serius yang ingin dibicarakannya. “ Jadi apa Rul “ ujar Said tidak sabar melihat Sahrul tidak juga mulai bicara. “ Sabarlah dulu, Id “ potong Hasan yang paling sebal dengan sikap Said yang grusa-grusu. Sahrul tenang saja, dia memperbaiki duduknya dengan bersila. Dengan tangannya ia memberi tanda supaya kawan-kawannya duduk melingkar. “ Aku rasa kita membutuhkan pelatih “ katanya sambil memandang Adil “ Ya benar Rul. Sangat membutuhkan “ jawab Adil. “ Ada seorang pelatih bola, dulunya ia pemain profesional. Dia orang kampung kita, namanya kang Ndang. Ada yang kenal? “ Sahrul bersuara. “ Ya.. ya aku tahu “ beberapa anak menjawab. “ Aku belum kenal, tapi katanya sih istrinya masih saudara jauh ibuku “ cetus Gun-gun. “ Aku punya rencana berkunjung kerumahnya malam ini dengan temanku Iwan dan kau Dil, karena kau yang paling tahu kekuatan tim kita “ sambung Sahrul. “ Tentu aku akan ikut. Untuk pertandingan besar seperti ini terlalu berat bagiku untuk merangkap pemain dan pelatih sekaligus “ jawab Adil serius. “ Kalau begitu kau juga ikut Gun, supaya ada basa basi dalam pertemuan kita nanti. Kalu perlu kau rayu dia........ha..ha “ sambung Adil tertawa diikuti gelak teman-temannya yang lain. Kemudian Adil mengambil ranting kering, ia menjelaskan strategi permainan dalam latihan sore ini. Ia mengambarkan posisi masing-masing anak dengan ranting ditanah. Mereka mengajak anak-anak kampung yang sedang bermain bola untuk melawan mereka. “ Kau jadi kiper untuk mereka, Rul. Jangan bikin kita mudah mencetak goal “ Adil memberi instruksi dengan tegas. Sahrul yang ditunjuk mengangguk-angguk. Kemudian Adil berkata lagi: “Ayo kita mulai, nanti kesorean. Mereka sudah menunggu “ Permainan bola sore itu sangat seru, Sahrul jungkir balik mempertahankan gawangnya. Selain ia harus menunjukkan kesungguhannya memenangkan tim yang dibelanya, ia juga harus meguji kekuatan dan keuletan tim Margasari. Pertandingan diakhiri dengan skor 3 – 1 untuk kemenangan Adil dan kawan-kawannya. Selesai bertanding, karena kecapaian mereka bergelimpangan diatas rumput sambil mengatur nafas “ Waah, hebat kau Rul “ ujar Adil menepuk-nepuk bahu Sahrul. “ Aku sampai jengkel tadi sama kau Rul, aku kira kau benar-benar kiper mereka “ sambung Hasan cengengesan. “ Yaa, kalau aku tidak bersungguh-sungguh, apa yang kalian dapat “ balas Sahrul menggurui. “ Aku puas uji coba hari ini “ kata Adil lagi,serius. “ Sahrul benar-benar bersemangat dan kalian harus ingat keuletan lawanlah yang akan memacu kita untuk berjuang lebih keras lagi “ Anak-anak calon juara itu mengangguk-angguk tanda membenarkan. “ Hayo, bangun bangun sebentar lagi Maghrib, kita harus pulang “ Gun Gun mengingatkan. Ketika mereka sedang bersiap- siap untuk pulang. Rombongan anak-anak lawan mereka tadi menghampiri mereka. “ Rul … “ Ujang, salah satu dari mereka memanggil Sahrul. “ Ya “ jawab Sahrul acuh tak acuh sambil mengibas-ngibas celananya membersihkan dari rerumputan. “ Begini, kami tadi sudah berunding, kami minta kau mau jadi kiper di kesebelasan kami “ Ujang kembali menjelaskan dengan raut muka berharap. Sahrul dan kawan-kawannya saling berpandang-pandangan. Tanpa tahu siapa yang memulai, akhirnya meledaklah tawa mereka, terpingkal-pingkal. Melihat bekas lawan mereka tertawa terbahak-bahak, anak-anak itu bengong, tetapi kemudian tertular juga ikut tergelak-gelak. Bahri menepuk bahu Ujang perlahan dan merangkulnya - dengan isyarat tangannya ia mengajaknya semua sahabat barunya pulang bersama. BERSAMBUNG

Tidak ada komentar:

Posting Komentar