Sabtu, 06 Desember 2014

BADAK MERAH - Bagian Satu: Kesebelasan Juara

Hari Minggu yang cerah, cuaca hangat ketika matahari belum terlalu tinggi. Karena hari libur, walau masih pagi tetapi sudah banyak anak-anak bermain, berlarian kesana kemari. Segerombolan anak lainnya sedang berjalan menuju lapangan bola dekat persawahan. Seorang anak berlarian pontang panting mengejar gerombolan anak yang akan bermain bola itu. " Hei ..heeii.. tunggu....... " teriaknya berkali-kali dengan suara serak. Salah satu anak dalam gerombolan itu berkata " Seperti suara si Adil ya ... " Lalu mereka berhenti dan melihat kearah suara di belakang mereka. Benar saja itu si Adil. Perawakannya tidak terlalu tinggi tetapi tubuhnya padat dan kuat. Anak-anak itu tertawa-tawa melihat Adil berlari sambil memegangi perutnya yang kejang karena berlari tanpa henti. Setelah dekat, sambil ngos-ngosan ia berkata "Istirahat .... berhenti ....dulu.. " "Yaa...yaa tenang Dil, ada apaan sih? " tanya Bahri yang tubuhnya paling besar diantara mereka. Mereka duduk dipinggir sawah dibawah pohon petai cina yang rindang. Hampir disepanjang jalan desa ditepi persawahan berjejer pohon petai cina ditanam secara gotong royong oleh penduduk. Selain buahnya bisa dimakan, daunnya juga bisa untuk pakan ternak: kambing dan kerbau mereka, selain berfungsi untuk menngemburkan tanah sehingga tanaman menjadi subur. "Tadi malam ayahku baru pulang dari kabupaten, setelah rapat dengan bupati " Adil memulai penjelasannya setelah berhasil mengatur nafasnya. Ayah Adil adalah lurah di kampung Margasari itu. "Ya terus kenapa Dil " potong Said yang keturunan Arab tidak sabar. "Sabar dikit kenapa sih " balas Adil sengit. "Sudah.. sudah, ayo lanjutkan Dil " Bahri menengahi. "Gini, untuk memperingati hari jadi ibu kota kabupaten akan diadakan pertandingan sepak bola mulai tingkat kelurahan, kecamatan dan finalnya akan dilakukan di kabupaten……. " ujar Adil dengan bersemangat. "Lalu?? " tanya teman-temanya hampir serempak. "Kita kan juara antar kelurahan bulan lalu. Ayahku bilang, mungkin kita yang akan dikirim untuk tingkat kecamatan. Tetapi, belum tentu juga. Harus menunggu hasil keputusan rapat Lurah-lurah besok Senin " "Lho kenapa harus nunggu keputusan Lurah lain sih, kan jelas kita pemenangnya" Said berkata bersungut-sungut. "Kita memang pemenang, Said. Tetapi bukan dalam rangka hari jadi kabupaten, tapi tujuh belasan " Adil berusaha sabar menjelaskan. "Benar " Bahri yang kelihatannya paling disegani, ikut menimpali. "Mungkin kelurahan lain ingin mengambil kesempatan ini untuk membalas kekalahan mereka pada kita " tiba tiba Hasan yang sejak tadi diam, bersuara sambil matanya menerawang kearah hamparan persawahan. "Siapa takut .. " seru Adil dan Said. "Ayo, kalau begitu kita harus latihan terus agar kita siap bila sewaktu-waktu harus melawan mereka lagi " Bahri menyemangati. "Mana tangan kalian " Maka keduabelas anak laki-laki itu berdiri kemudian menumpangkan tangannya satu sama lain sambil meneriakkan : SEMANGAT! MENANG! Tapi kenapa jumlahnya duabelas, bukan sebelas seperti kelompok sepak bola biasanya? Begini. Sahrul anak yang paling kecil diantara mereka – ia memang masih kelas tiga sedangkan teman-temannya rata-rata kelas lima dan enam – adalah pemain cadangan. Walau kecil, ia sangat lincah. Tetapi teman-temannya sering memanggilnya manajer, karena anak itu selalu yang paling peduli mengurusi keperluan pemain apabila pertandingan tiba. Sampai tengah hari mereka asik berlatih sepak bola. Kemudian pulang untuk makan. Sore harinya mereka kembali kesawah, membawa kerbau-kerbau kesungai untuk dibersihkan kemudian mereka juga mandi, riuh rendah suara mereka berenang sambil bercanda. Sebelum magrib mereka pulang kerumah masing-masing seraya menggiring ternak: kerbau dan kambing yang sedari tadi asik merumput. Semalaman Adil sulit tidur, ia bergolek diatas ranjangnya tetapi matanya sulit terpejam. Ia ingin segera tahu bagaimana hasil rapat ayahnya dan lurah lain dikecamatannya. Adakah mereka harus bertanding lagi atau kesebelasannya yang akan maju menjadi wakil di kecamatan dua minggu lagi …… Esok paginya disekolah, teman-temannya dalam tim sepak bola ternyata juga merasakan hal yang sama dengannya, mereka harap-harap cemas menunggu keputusan yang akan disampaikan pak Lurah Sudirga nanti malam. Ketika waktu istirahat, mereka berkumpul. "Waduh, aku rasa kalau kita bisa langsung lawan kecamatan lain akan lebih seru, bapak mau ikut kekecamatan nonton kita main " kata Hasan yang sangat membanggakan ayahnya juragan pabrik kerupuk di kampung itu. "Benar, artinya cuma tinggal selangkah untuk bertanding di kabupaten" kata Adil yang kapten kesebelasan menimpali. "Tapi kalau sudah tingkat kecamatan lawan kita pasti lebih berat-berat. Aku dengar kiper kecamatan Sedana pernah main di tingkat Kotamadya " ujar Bahri. Posisinya memang sebagai kiper. "Yang penting kita berjuang mati-matian dan main bagus, selebihnya kita berdoa dan pasrah pada Allah SWT " sambung Gun Gun anak pak uztad Mansur. "Lalu, bagaimana dengan seragam kita? " Sahrul bersuara. Semua tertawa. Mereka tahu betul, Sahrul akan selalu memperhatikan hal-hal di luar teknis pertandingan. Suasana menjadi cair. "Menurut pak manajer, gimana? " Said balik bertanya geli. "Ya kalau kita tidak terpilih untuk lawan kecamatan ya memang gak perlu sih, tapi kalau ya masak pakai kaos sablonan mang Emen yang kita punya sekarang? "jelas Sahrul dengan lagak manajer betulan. "Bener…bener " Said berkata. " Kita mesti minta mang Emen pakai cat yang mutunya lebih baik " "Ya setuju, kaosku kena keringat aja luntur sablonannya. Waktu final kemarin nomor punggung delapan jadi nol " kata Anwar kesal. "Masih untung aku dong, saingan sama kiper. Nomer empat jadi nomor satu " sambung Adil terbahak-bahak. Mereka terus asik beradu cerita tentang kaos seragam yang luntur, sambil tergelak-gelak. Gerombolan anak-anak yang riang itu baru bubar ketika bel berbunyi, mereka masuk kelas lagi untuk belajar. Pak Lurah Sudirga mengundang beberapa pemuka kampung dan orangtua pemain kesebelasan Margasari ke pendopo Kelurahan malam ini guna membicarakan rencana pak Bupati untuk perayaan hari jadi kabupaten. Sebetulnya anak-anak tidak termasuk undangan, tetapi hampir semua anggota kesebelasan hadir mendampingi orangtua mereka. "Selamat malam Bapak-bapak dan Ibu-ibu sekalian, dan juga anak-anak anggota kesebelasan yang ikut hadir walau tidak diundang " pak Lurah membuka pertemuan sambil sedikit bercanda. Hadirin tertawa melihat anak-anak tersipu-sipu dengan sindiran pak Lurah tadi "Assalamualaikum warohmatullahiwabarokatuh....... " salam pak Lurah. "Waalaikum salaaaam warohmatullahiwabarokatuh... " warga membalas salam. "Begini para hadirin, saya baru saja kembali dari kabupaten. Ada pesan yang harus saya sampaikan kepada warga sekalian. Bahwa dalam rangka merayakan hari jadi ibu kota kabupaten kita, tahun ini bapak Bupati mempunyai rencana yang berbeda tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Untuk meningkatkan prestasi olah raga antar daerah dibawah kabupaten pimpinannya, beliau menetapkan akan diadakan pertandingan sepak bola kelompok umur delapan sampai dua belas tahun tahun memperebutkan Piala Bupati. Petandingan akan dilakukan berjenjang dari tingkat kelurahan, kecamaan dan finalnya nanti akan dilakuan di ibukota kabupaten. Pemenang tingkat kabupaten nantinya akan menjadi wakil untuk melawan kabupaten lain " pak Lurah berhenti sejenak. Kemudian melanjutkan lagi. "Saya berpikir bahwa kita sudah punya kesebelasan sebagai juara yang baru menang bulan lalu di tingkat kelurahan, pada acara perayaan hari kemerdekaan. Tetapi kelurahan lain juga ingin punya kesempatan yang sama untuk maju ke kabupaten " Sementara pak Lurah berbicara, Bahri bepandang-pandangan dengan Adil. Mereka kelihatan sangat tidak sabar menunggu apa yang akan menjadi akhir dari pertemuan warga kali ini. " Karena itu siang tadi, kami para Lurah bermusyawarah untuk menetapkan apakah perlu dilakukan pertandingan lagi ataukah tidak. Mengingat kita hanya punya waktu sekitar sepuluh hari untuk memulai pertandingan di tingkat kecamatan " lanjut pak Lurah. Kemudian ia seperti terpekur, diam tidak berkata-kata dalam beberapa waktu. Para warga yang hadir saling berbisik satu sama lain, bertanya tanya apa yang terjadi pada pak Lurah mereka. Hasan menarik-narik lengan ayahnya, "Pak, kenapa pak Lurah, Pak? " tanyanya cemas. "Ssst, diamlah. Beliau sedang mencari kata-kata. Karena tidak ingin kita kecewa " pak Karta menjawab. "Hehhhh " Hasan menghembuskan nafasnya sambil melemparkan punggungnya kesandaran kursi, lemas. Dibagian lain, Bu Tilah ibu Sahrul dengan sabar mengelus-elus punggung anaknya sambil tersenyum memandangi wajah anak tunggalnya. "Bertanding lagi juga gak apa-apa kan, Rul? Olah raga itu sehat " bujuknya melihat wajah Sahrul yang cemberut. "Sehat sih sehat, Bu. Waktunya kan tinggal sepuluh hari, kita belum punya strategi " jawabnya serius. Bu Tilah tersenyum-senyum saja melihatnya. Sementara Adil merasa gemas dan khawatir melihat pak Lurah. Apa gerangan yang sedang dipikirkan ayahnya? Apakah ia tidak berhasil mempertahankan pendapatnya agar kelurahan Margasari yang menjadi wakil, kemudian ia malu mempertanggung jawabkannya kepada para warga? Sedangkan Abah Jamaludin, pria tinggi besar keturunan Arab yang tidak lain ayah si Said menggeleng-gelengkan kepalanya. Berkali-kali ia menghela nafas, sambil mengucap: "Astagfirullah ... kenapa pak Lurah? " Tiba-tiba pak Lurah mengangkat kepalanya lagi, dengan wajah yang sungguh-sungguh ia mengatakan "Bapak dan Ibu serta anak-anak yang saya cintai dengan sangat..sangat menyesal saya harus menyampaikan bahwa hasil rapat Lurah siang ini memutuskan bahwa .......... Pak Lurah menyapu ruangan pendopo dengan pandangannya, memperhatikan wajah-wajah tegang dari hadirin yang menunggu keputusan akan kelanjutan perjuangan kesebelasan kebanggaan kampung mereka. Suara pak Lurah terdengar kembali, "Hasil rapat memutuskan bahwa .... kesebelasan Margasari berhak menjadi wakil di tingkat kecamatan dua minggu lagi ! " seru pak Lurah setengah berteriak. Horeeee......horeeee.... Hadirin bersorak sorai. "Alhamdulillahirobbilalamiiiin " suara abah Jamal sambil mengusap mukanya dengan kedua tangannya. Kemudian mengusap-usap rambut keriting anaknya, Said. Pak Karta memeluk Hasan erat-erat, dengan wajah bangga dan bahagia ia berkata "Nanti Bapak antar sendiri kalian di kecamatan manapun " "Bener ya Pak " balas Hasan menyeringai senang. Anak-anak tim kesebelasan Margasari saling bersalam salaman. Wajah mereka sangat ceria. Sangat senang rasanya ketika pak Husni - kepala sekolah - memeluk mereka satu persatu. Sebelum menutup pertemuan, pak Lurah menjadwalkan untuk bermusyawarah kembali dalam rangka pembentukan panitia. Akhirnya warga meninggalkan pendopo dengan gembira. Sesaat ketika akan pulang, Abah Jamaludin menghampiri pak Lurah, menyalaminya sambil berkata "Pak Lurah, pinter sekali bikin jantung saya mau copot......" "Waah, pak Jamal, jangan dululah. Kita masih perlu sumbangannya ........" jawab pak Lurah, diiringi derai tawa keduanya. Malam itu Adil tidur sangat nyenyak, seakan membalas kekurangan jam tidurnya malam sebelumnya. Harapannya untuk bertanding di tingkat kecamatan akan tercapai, tinggal kesebelasannya harus berlatih lebih giat lagi agar bisa terus melaju ke tingkat selanjutnya. Dalam tidurnya Adil bermimpi kesebelasan yang dikapteninya akhirnya berlaga di hadapan bapak Bupati dengan jumlah penonton ribuan orang. Di kamar lain, dirumah yang lain, Sahrul masih asik kutak-kutik dengan pensil dan buku kecil. Mencorat-coret, menggambar dan menulis sesuatu. Ibunya yang memperhatikan dari tadi menegurnya, "Rul, sudah malam. Lihat jam berapa ini, hampir jam sebelas malam. Nanti kamu bangun kesiangan, bisa terlambat kesekolah " "Ya Bu, sebentar lagi " jawab Sahrul "Kamu sedang bikin apa sih, apa gak bisa besok saja? " lanjut ibunya "Ini penting, Bu. Sahrul harus merencanakan persiapan latihan dan kebutuhan perlengkapan para pemain, seperti kaos seragam " "Jadi ceritanya, kau juga merancang gambar untuk seragam kalian nanti? " tanya ibunya. "Begitulah, Bu " Sahrul tersenyum. Bu Tilah mencibir sambil tersenyum mengelus rambut anaknya ……. BERSAMBUNG

Tidak ada komentar:

Posting Komentar