Kamis, 18 Desember 2014

BADAK MERAH - Bagian Empat : Dadang Rukmana

Dulu, desa Ciherang juga pernah mempunyai kesebelasan juara yang terdiri dari anak-anak sekolah dasar seperti yang sekarang ada di kampung Margasari. Tapi itu sekitar duapuluh tahun yang lalu, ketika Dadang masih kelas enam SD. Ia salah satu pemainnya, sebagai penyerang. Kesebelasan yang dikapteninya menjadi juara pada pekan olahraga dan seni tingkat SD sampai mencapai tingkat propinsi pada waktu itu. Itulah kesempatan yang membukanya menjadi pemain profesional. Dadang Rukmana, begitu namanya. Pak Zaenal, ayahnya, mempunyai usaha kerajinan sepatu dan mereka membuka toko kecil di depan rumah untuk menjual produksi sepatunya. Dadang adalah anak laki-laki pertama bagi keluarga Zaenal, adik perempuannya dua orang. Maka layak apabila bagi orangtuanya Dadang merupakan tumpuan masa depan keluarga. Ayah Dadang sangat berharap ia bisa melanjutkan usaha turun temurun ini, jangan sampai terhenti atau mati tergerus waktu. Dadang memahami betul kehendak orang tuanya, karena usaha sepatu itu satu-satunya yang ada di daerahnya, yang dibuat nyaris tanpa mesin, hanya dengan ketrampilan tangan dan kesungguhan hati. Dadang telah terbiasa melihat ayah dan dua pegawainya bekerja, ia sudah hafal betul proses demi proses yang harus dilalui untuk menghasilkan sepatu yang mutunya baik. Walau demikian tugasnya bukan membuat sepatu, tetapi mengantarkan pesanan sepatu kepada pelanggan mereka. Rumah Dadang kecil ada disebuah gang yang oleh penduduk setempat disebut Gang Penurunan. Penurunan, karena jalannya menurun sehingga pemukiman disekitarnya berada diatas dan ada yang dibawah, bahkan di lembah. Karena rumahya dibawah, untuk menuju sekolah. Dadang harus berjalan menanjak. Tetapi Dadang tidak pernah berjalan, ia selalu berlari. Begitu juga apabila harus mengantarkan pesanan sepatu pelanggan ayahnya, ia akan berlarian menanjak dan menuruni jalanan. Tanpa ia sadari ia melatih otot kakinya setiap hari. Maka tidak heran apabila beberapa kali ia berhasil menjuarai lomba lari dikampungnya. Dadang bersekolah si SD Sidareja. Sekolahnya sedang mempersiapkan tim olahraga untuk menghadapi Porseni tingkat SD. Dadang yang jago lari, tentulah ia ikut lomba lari. Tim sepak bolapun siap sudah. Hampir setiap hari Dadang dan kawan-kawannya berlatih. Lima hari menjelang pertandingan pertama melawan sekolah lain, Rahmat pemain penyerang tim sepak bola SD Sidareja mengalami cidera di kakinya. Semua sudah diusahakan untuk penyembuhannya. Sampai ketukang urut paling terkenal di Ciherang, tetapi kakinya makin membengkak saja. Maka mau tidak mau, sekolah harus mencari pengganti. Bagi mereka sepak bola terlalu berharga untuk ditinggalkan, lebih bergengsi untuk diperjuangkan. Sampai suatu sore dua hari sebelum pertandingan dimulai, pak guru Soleh bertandang ke rumah pak Zaenal. " Begini pak Zaenal " pak Soleh membuka maksud kedatangannya, setelah mengobrol kesana kemari. " Rahmat. salah satu penyerang tim sepak bola kami, tidak dapat diharapkan lagi untuk bisa memperkuat tim karena cedera kakinya belum juga membaik. Karena itu kami sangat membutuhkan pemain pengganti " " Lalu siapa peggantinya, pak? Bukankah hanya kurang dua hari lagi harus bertanding? " berondong pak Zaenal cemas dan tidak sabar. " Itulah pak " pak Soleh menanggapi dengan sabar. " Kami sudah melakukan rapat dan juga mengamati kemampuan anak-anak, kami memutuskan untuk memilih Dadang sebagai penggantinya " sambungnya. " Dadang …? " pak Zaenal kelihatan bingung sambil telunjuknya menunjuk anaknya yang sedari tadi berdiam diri duduk disampingnya.. " Ya pak. Masalahnya sekarang Dadang juga pelari, akan sangat berat baginya untuk mengemban kedua tugas ini sekaligus " timpal pak Soleh " Maksud kedatangan sayapun untuk meminta pertimbangan bapak tentang hal ini mengigat prestasi Dadang sebagai pelaripun sangat membanggakan… " pak Soleh melanjutkan, sambil menarik nafas panjang. Keduanya terdiam beberapa waktu. Ayah dadang tampak terpekur, berpikir serius. Setelah hening, kemudian terdengar suara berat pak Zaenal. " Begini sajalah. Selama ini Dadang sudah cukup banyak menyumbangkan medali dan piala dalam lomba lari. Pertimbangan saya, kalau kali ini harus absen dari arena atletik mungkin tidak terlalu mengecewakan. Karena sepak bola kita juga belum maju, belum pernah juara, sangat perlu diperhatikan. Jadi saya pikir " karena diapun sangat suka sepak bola - sebaiknya Dadang berkonsentrasi sebagai penyerang saja. Kami mendukung " pak Zainal berbicara panjang lebar memutuskan pilihan yang pelik ini dengan bijak. " Bukan begitu Ndang? " tanya pak Zaenal menoleh pada Dadang yang duduk disampingnya, sambil mengelus kepala anaknya itu. “Ndang” adalah panggilan sehari-hari Dadang. " Ya pak, bagaimana baiknya menurut bapak saja " sahut Dadang sambil tersenyum-senyum. " Waaah, terimakasih banyak pak Zaenal dan Dadang atas keikhlasannya. Mudah-mudahan ini akan jadi jalan memajukan sepak bola sekolah dan kampung kita " kata pak Soleh berseri-seri penuh rasa syukur. Begitulah awal mula Dadang menekuni permainan sepak bola sebagai pemain penyerang. Ketika Dadang bergabung dengan tim sekolahnya, mereka berhasil sampai ketingkat propinsi walaupun tidak sebagai juara. Tetapi peringkat kedua tingkat propinsi bukalah prestasi yang biasa-biasa bagi kampung kecil yang sejuk dan sederhana seperti Ciherang, hasil itu merupakan pencapaian yang sangat luar biasa. Luar biasa pula bagi Dadang khususnya. Dalam arena pertandingan di propinsi Jawa Barat selain berhasil membawa timnya masuk final, ia juga medapat penawaran untuk dididik sebagai salah satu pemain tingkat junior nasional. Sungguh membanggakan bagi seluruh warga Ciherang. Tapi bagaimana dengan keluarga Dadang sendiri? Ayahnya, pak Zaenal, sangat bangga tentu saja. Tetapi ia juga sangat sedih. Ia berharap anak laki-laki satu-satunya itu kelak yang akan melanjutkan usaha sepatunya. Sungguh hatinya merasa gundah. Sebagian hatinya ingin anaknya maju dan berhasil, sebagian lainnya risau: bagaimana nasib warisan turun temurun ini? Sebetulnya penghasilan pokok ayah Dadang bukanlah dari usaha sepatu, tetapi dari peternakan itik di lahan berempang di belakang rumahnya. Selain menjual itik anakan, indukan, telurnya dan juga ikan dari empang-empangnya. Tetapi industri rumahan sepatunya lebih dari apapun baginya. Hasil karyanya telah dikenal orang, baik didaerahnya sendiri maupun dikampung lain. Bahkan ada saja pemesan yang datang dari kota meminta dibuatkan sepatu khusus padanya. Orang mengatakan kualitas pengerjaannya sangat bagus, jahitannya sangat halus, karena dikerjakan oleh tangan. Ia sungguh mencintai pekerjaannya, karenanya setiap hasil karyanya apakah sepatu, sandal, selop atau kelom selalu dibuatnya dengan sepenuh hati. Namun ketika ia semakin tua nanti, siapa yang akan melanjutkan bila harapannya pergi jauh darinya? Seperti biasa setelah pulang sekolah, Dadang pergi ke empang memberi makan bebek-bebek dan ikan-ikannya. Setelah itu ia duduk merenung di gubuk kecil diatas empang, sambil sekali-sekali melempar sisa pelet kearah empang, ia melihat masih ada saja ikan yang berebut makanan. Terkadang ia tersenyum-senyum melihat ulah ikan-ikannya. Aah, rupa-rupaya tidak hanya pak Zaenal yang sedang gundah, Dadangpun bimbang hatinya. Apalagi seringkali ia melihat wajah ayahnya yang muram. Benar, ia ingin menjadi pemain bola terkenal, namun bila ya, lalu bagaimana usaha ayahnya nanti? Kedua adiknya perempuan, bukan mereka yang diharapkan oleh ayah. Dadang sendiri masih kecil, umurnya belum cukup duabelas tahun, ia bingung. Tetapi yang pasti, ia tentu akan mengikuti apapun yang nantinya menjadi keputusan ayah yang dicintai dan dihormatinya itu. Ia tidak mau mengecewakan hati orangtuanya. Karena asik melamun, Dadang tidak menyadari ayahnya naik kegubuk. " Ndang .. " suara ayahnya agak parau, masih berdiri memandang kekolam sambil mengelus-elus kepalanya dengan sebelah tangannya. " Pak.. " sahut Ndang , kepalanya menengadah memandang ayahnya. " Hhhhhh " terdengar hembusan nafas panjang ayah. Kemudian duduk disebelah Dadang. " Bapak sudah memutuskan untuk mendukung kemajuan anak laki-laki kebanggaan Bapak, sebagai calon pemain bola besar kelak. Bapak tidak akan membebanimu dengan masa depan usaha sepatu keuarga kita. Konsentrasi saja pada sepak bola, jadilah pemain professional handal " tandas pak Zaenal tegas, tanpa bisa menghilangkan rasa bangganya. Kedua anak beranak itupun berpelukan. Itulah hari yang megukuhkan langkah Dadang sebagai pemain sepakbola ternama. **** Beberapa waktu setelah maghrib masih berkain sarung dan kopiah, sepulang mengaji, tiga sekawan Sahrul, Adil dan Gun Gun serta Iwan loper koran sahabat Sahrul, mampir kerumah pak Zaenal. Sesuai dengan rencana mereka siang tadi akan menemui kang Ndang. " Assalamualaikuuuum …. " suara keempat anak itu memberi salam, nyaris berteriak. " Waalaikumsalam…. " terdengar balasan suara berat dengan sedikit terbatuk-batuk. Pintu rumah terbuka, rupanya pak Zaenal yang membukakan pintunya. Lelaki tua yang ramah itu seperti terkejut mempersilakan anak-anak itu masuk kerumahnya. " Heeii, kau Gun. Ini semua kan teman-teman tim bolamu? " " Betul Wak " sahut Gun Gun memanggil Uwak pada pak Zaenal. " Ayo masuk.. masuklah.. " " Terimakasih Waak .. " sambut anak-anak bersamaan. Kemudian mencium tangan pak Zaenal. Setelah duduk, Gun Gun membuka pembicaraan. " Wak, kami dengar kang Ndang sekarang pulang ke Ciherang, betul Wak?" berondongnya. " Betul ..betul. Wah cepat sekali kabar berhembus ya, ha ha ha .. " kata pak Zaenal riang. " Ngomong-ngomong kalian ini datang bukannya buat menjenguk bapak yang sudah tua? " sambung pak Zaenal berseloroh. Anak-anak laki-laki itu tertawa-tawa. " Ya juga Wak " Gun Gun dengan tangkas menengahi. " Tapi kami memang ada keperluan juga dengan kang Ndang " " Oh begitu .. " pak Zaenal tersenyum " Aaah, itu dia. Baru kembali dari mesjid " Terdengar suara langkah agak berat mendekat. Kemudian sosok laki-laki tinggi dan tampan berdiri dipintu masuk rumah. " Wah, ada tamu , pak.. " kata laki-laki itu pada pak Zaenal. " Yaa, nah ini kang Ndang, anak-anak .. " jawab pak Zaenal seraya berbicara pada tamu-tamu kecilnya. Kemudian tanpa disuruh keempat anak laki-laki itu menghambur menyalami dan mencium tangan kang Ndang. " Anak-anak ini adalah tim sepakbola yang akam mewakili Ciherang ditingkat kecamatan .. " jelas pak Zaenal pada kang Ndang. " Waah hebat kalian – sambut kang Ndang kelihatan senang. " Eeh, tapi tadi kalian bilang ada keperluan pada kang Ndang, nah bicarakanlah – pak Zaenal seolah melihat keraguan pada anak-anak itu. " Adil, kau bicaralah – tukas Gun Gun. Disambut derai tawa pak Zaenal dan kang Ndang. " Ayolah, kenapa jadi lempar-lemparan – suara kang Ndang terdengar ramah. Adil menoleh kekanan dan kekiri kearah kawan-kawannya, kemudian memdehem beberapa kali. Sementara pak Zaenal dan anaknya tak bisa menahan senyum. Akhirnya keduanya tertawa terkekeh-kekeh. " Ayo Dil, bicaralah. Keburu subuh nih.. – kata kang Ndang berseloroh. Mereka semua tertawa. Suasana menjadi cair. Akhirnya Adil bersuara. " Begini kang, kami kan harus bertanding dua minggu lagi, kami sudah melakukan banyak latihan dan segala sesuatunya rasanya sudah disiapkan oleh pihak sekolah dan oleh manajer kami, Sahrul " " Haaah … - kalian sudah punya menajer? Dimana pak Sahrul sekarang? " kang Ndang memotong terkejut. Meledaklah tawa keempat tamu-tamu kecil itu Dasar anak-anak, mereka terpingkah-pingkal sambil memegangi perut sangat geli, terutama melihat wajah pak Zaenal dan kang Ndang yang kebingungan lucu. " Eh sudah..sudah.. " cetus Gun Gun sadar sedang berhadapan dengan Uwaknya. " Manajer kami bukan pak Sahrul kang, tapi Sahrul. Ini dia " lanjut Adil menepuk bahu Sahrul, setelah dapat menghentikan tawanya. " Ooooo.. ya ya ..ya ya .. " ayah dan anak itu mahfum tapi tetap saja tertawa-tawa. Kemudian kata kang Ndang menoleh pada Adil: " Jadi, bagaimana tadi, Dil ? " " Ya, jadi kami sudah dipersiapkan untuk bertanding, tetapi kami merasa kurang percaya diri , karena kami tidak punya pelatih. Apa yang kami lakukan selama ini .. ya berlatih sendiri. Apakah itu cara yang benar atau kurang tepat kami tidak tahu….. " jelas Adil mengambang. " Jadi pada intinya, kami sangat butuh pelatih. Kami sangat mengharapkan kang Ndang untuk mau membantu melatih kami " tiba-tiba Sahrul bersuara, lugas dan terus terang tetapi sopan. Seperti dikomando. Adil dan teman-temannya yang lain mengangguk-angguk tanda setuju. Pak Zaenal dan kang Ndang berpandang-pandangan. " Oh begitu " balas kang Ndang bijak. " Tentu saja Akang tidak berkeberatan, tetapi adik-adik, Akang sekarang tidak selincah seperti yang dulu " ada nada getir di suara kang Ndang. Tetapi ia segera melanjutkan, " Jangan kuatir, Akang akan membekali kalian dengan teknik dan strategi yang Isya Allah akan mendukung kalian di lapangan nanti " Tanpa bisa dibendung lagi, keempat anak-anak pecinta bola itu bersorak-sorak: " Horee... horeee…horeee…" suaranya riuh memenuhi ruangan tamu pak Zaenal. Bu Zaenal yang muncul membawa nampan berisi minuman dan makanan kecil, terkejut : " Waduuh.. ada kesenangan apa ini .. " " Dasar anak-anak…" ujar pak Zaenal menggeleng-geleng tertawa.. Kang Ndang tersenyum-senyum memandangi anak-anak itu, matanya berkaca-kaca. Ia seolah melihat kegembiraan yang dahulu ia rasakan ketika menjadi tim sepakbola kebanggaan sekolah, seperti mereka. Tak ada yang memperhatikan, kecuali tentu saja, pak Zaenal yang sangat mengerti siapa anaknya. Ia seolah tahu apa yang sedag berkecamuk dibenak anak laki-laki kesayangannya. Ada rasa sakit yang menusuk hati bapak tua itu. Sedangkan wajah-wajah polos ceria dengan mulut-mulut mungil yang menjadi tamu mereka, sibuk mengunyah singkong goreng hangat yang disajikan Bu Zaenal. Hari Minggu, keesokan harinya sesuai janji dengan kang Ndang, pagi-pagi sekali sekitar pukul lima, anak-anak kesebelasan Margasari sudah berkumpul di lapangan kampung dipinggir persawahan. Wajah-wajah mereka tampak ceria, dan bersemangat. Juga penasaran serta tak sabar menanti kedatangan pelatih mereka kang Ndang. Apa yang akan diajarkan beliau? Alangkah bangganya kesebelasan mereka mempunyai pelatih yang termasyur tidak hanya didesa mereka tetapi juga di wilayah lain bahkan mungkin seluruh Indonesia mengenalnya, bukankah dulu ia pemain timnas yang disegani? Tepat pukul setengah enam, kang Ndang muncul dengan sepeda olahraganya. Ia berkaus dan celana panjang olah raga lengkap dengan sepatu bola, topi serta peluit. Waah, wajah anak-anak itu terkesima menatap pelatihnya. Seperti mimpi rasaya. Lihat betapa gagahya ia. Lihat sepatu bolanya, pasti itu pernah dipakainya untuk menciptakan gol-gol yang indah dulu. Berbagai khayal bermunculan dibenak anak-anak itu. Ketika sudah dekat, kang Ndang melompat dari sepedanya dan membiarkan sepedanya tergeletak di rerumputan. " Apa kabar anak-anak " seru kang Ndang ramah. " Baiiik, kang " teriak anak-anak keriangan. " Sudah siap untuk latihan keras hari ini? " kang Ndang berteriak lebih keras. " Siaaap " balas anak-anak itu lebih keras lagi. " Terimakasih atas semangat kalian, akang jadi ikut bersemangat. Mulai hari ini pada setiap latihan kalian harus belajar untuk fokus pada permainan, tunjukkan kemampuan kalian yang terbaik. Akang akan melihat dimana kekurangan dan kelebihan yang ada pada kalian, sehingga nantinya akang bisa mengarahkan agar lebih baik lagi. Paham? " jelas pelatih dengan tegas. - Jelaaas " anak-anak menjawab serempak. - Bagus! " kang Ndang melanjutkan. Kemudian membunyikan peluitnya. - Sekarang luruskan kesamping, kapten sebelah kanan dan mulai berhitung! " - Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh, sebelas, duabelas " suara anak-anak berteriak bersahut-sahutan. - Dua belas orang! Ayo, kita lakukan pemanasan. Ayo..ayo " perintah kang Ndang menyuruh anak-anak untuk bergerak cepat. Dipimpin oleh pelatih barunya, anak-anak Margasari terlihat melakukan olah tubuh, berlari-lari ditempat, melompat-lompat. Mereka kelihatan sangat bersemangat. Setelah itu tampak mereka berlari mengelilingi lapangan. Kang Ndang tidak ikut berlari, ia berjalan mondar mandir dipinggir lapangan sambil memperhatikan anak-anak. Latihan berikutnya, masing-masing anak berusaha memasukkan bola kegawang yang dijaga kang Ndang sendiri. Begitulah mereka berlatih sesuai yang diarahkan oleh pelatihnya. Mereka berlatih dengan sungguh-sungguh dan penuh semangat seperti tidak pernah kehabisan tenaga, walaupun matahari semakin tinggi dan sinarnya menyengat kulit-kulit mereka. Ketika hari semakin siang, kang Ndang mengumpulkan mereka dan setelah memberi arahan-arahan yang perlu mereka mengakhiri latihan hari itu dengan gembira. Kang Ndang terlihat agak pincang, sekali-kali terlihat mengelus lutut kirinya, kemudian ia pulang dengan menaiki sepedanya. Ia melambai pada anak-anak latihnya yang berjalan bergerombol kembali kerumah masing-masing. BERSAMBUNG

Tidak ada komentar:

Posting Komentar